Workshop Penerapan Sekolah Bebas Bullying
Perundungan hingga saat ini masih menjadi salah satu permasalahan pelik di Indonesia. Seperti disampaikan oleh menteri pendidikan RI, Nadiem Anwar Makarim terdapat tiga dosa besar dalam pendidikan Indonesia. Tiga dosa besar tersebut adalah perundungan, kekerasan seksual dan intoleransi. Sebagai salah satu sekolah Pusat Keunggulan (PK) SMKN 7 Surakarta mengadakan kegiatan Sekolah Bebas perundungan yang merupakan salah satu progran sekolah PK. Tahun ini merupakan tahun ke dua SMKN 7 Surakarta mengadakan workshop Program Sekolah Bebas Perundungan sebagai bagian dari Program Lanjutan sekolah PK. Kali ini SMKN 7 Surakarta mengundang narasumber dari kemdikbudristek yaitu bapak Ian Lapoh M.R Simarmata selaku Koordinator Koordinator Program Anti Perundungan Kemendibudristek RI.
Kegiatan ini diikuti oleh 116 peserta dari guru dan siswa. Dalam kegiatan ini narasumber memberikan pemapara tentang perundungan dan bagaimana pencegahan serta program yang dilakukan. Salah satu program yang sudah dilakukan di SMKN 7 Surakarta adalah Roots Day yang menghasilkan 30 siswa Duta Anti Perundungan (Siswa Agen Perubahan).
Ibu Asri Pujihastuti selaku penanggung jawab kegiatan ini mengatakan bahwa kegiatan ini akan terus dilakukan secara berkelanjutan. “Tahun lalu sudah banyak projek dan output yang dihasilkan oleh 30 siswa agen perubahan, seperti poster, komik dan lainnya yang diunggah di media sosial sebagai bentuk kampanye anti perundungan.” Paparnya. Kegiatan ini juga diharapkan dapat menjadi sebuah usaha untuk meningkatkan awareness akan bahaya perundungan (Bullying) terutama pada ekosistem sekolah. Beliau juga berharap seluruh warga sekolah memiliki pengetahuan yang baik dalam permasalahan ini dan menjadi penggerak pencegahan bullying di sekolah agar tercipta suasana aman dan nyam
an dalam belajar.











